(Republika, 21 Februari 2008)
Suatu hari penjelajah terkenal asal Maroko Ibnu Battuta (1304-1368 M) menginjakan kakinya di Damaskus. Ia begitu kagum melihat kehidupan kota Damaskus dan masyarakatnya yang ramah. Di Damaskus berdiri banyak sekali lembaga amal yang diperuntukkan untuk membantu masyarakatnya. “semangat sosial masyarakat Damaskus begitu tinggi,” kisah Ibnu Battuta merasa sulit untuk menghitungnya. Saat itu orang yang tidak mampu untuk berhaji akan dibiayai oleh lembaga amal yang ada.
Masyarakat Damaskus pun berlomba-lomba dermawan karena kemakmuran namun juga pemurah sifatnya. Bianquis mencatat, begitu terbukanya Damaskus bagi para pengungsi asal andalusia yang terusir dari negeri Spanyol, ketika kristen menguasai tanah itu pada abad ke 12 M.
Seabad kemudian, Damaskus menjadi tempat berlabuh warga Irak dan Iran ketika bangsa Mongol menghancurkan tanah kelahiran mereka. Pada abad ke-16 Damaskus menjadi tempat berlindung bagi bangsa Spanyol baik Muslim maupun Yahudi yang mencari perlindungan.